Tentang Kaki

Setelah menyelesaikan ‘Codex’, tiba saatnya untuk menggoyang keyboard.Hehe…Sekalian berbagi hikmah tentang sesuatu di penghujung tahun 2011 kemarin :) . Kali ini saya ingin sedikit berbagi, sharinglah,tentang salah satu anggota tubuh kita yaitu KAKI, kaki punya saya lebih tepatnya mah.

Menginjakkan kaki seringkali mungkin bukan hal yang istimewa. Iya ngga? Namun bagi saya sekarang, menginjakkan kaki adalah hal yang sangat istimewa dan sangat berharga. Banyak orang berkata, sesuatu baru terasa berharga setelah sesuatu itu hilang. Ya, kurang lebih itu yang benar- benar dirasakan sekarang. Bisa menginjakkan kaki, berjalan dan berlari dengan normal adalah sesuatu yang berharga dan harus disyukuri. Alloh menguji kesabaran saya dengan ujian ini.

Ujian seputar kaki ini diawali sekitar dua bulan yang lalu. Akibat paronichya pada jempol kaki beberapa bulan sebelumnya, setelah berkonsultasi dengan dokter akhirnya diputuskan bahwa kuku jempol kiri saya harus diekstraksi. Bedah minor…mendengar sebutannya agak ngeri, tapi itu satu-satunya solusi agar paronichya yang saya alami sembuh. Karena agak sulit untuk ekstraksi sebagian, akhirnya satu kuku jempol kaki harus diekstraksi alias satu kuku dicabut dari jari :’(.

Mungkin ada orang yang menganggap hal ini biasa…cuma satu kuku doang. Meskipun sepele, percaya atau tidak, setelah menjalani ekstraksi kuku kaki rasanya sulit sekali untuk berjalan dengan normal, ruku’ dengan normal, mengganti ‘gigi’ dengan normal, dsb . Menjejakkan jempol sebentar saja langsung terasa perihnya. Ya Alloh… Diperlukan waktu sekitar 2 minggu agar luka pascabedah itu kering dan sekitar 1 bulan untuk tumbuh kuku baru. Setiap hari sebelum luka kering, aktifitas mengganti perban menjadi agenda penting yang tidak boleh terlewatkan. Jika terlewatkan 1 hari saja, suffra-tulle dan perban akan menempel pada luka dan mengangkatnya akan sakit seperti halnya membuka plester dari kulit. Alhamdulillah, sekarang luka jempol sudah kering dan saya bersyukur karena kuku jempol mulai tumbuh sedikit demi sedikit.Bersyukurlah yang masih punya kuku jempol kaki…

Belum tumbuh sempurna si kuku kaki jempol, Alloh memberikan ujian lagi pada kaki ini, kali ini kaki kanan. Tepat tiga minggu yang lalu saya mengalami kecelakaan. Saya kira hanya luka lebam seperti jatuh dari motor yang sebelumnya pernah saya alami. Ternyata tidak, bagian belakang kaki kanan saya sobek cukup dalam dan lebar.hiii… Saya sendiri tidak berani melihat luka di kaki saya saat itu. Darah yang banyak berceceran membuat saya semakin enggan untuk melihat luka sobek yang saya alami. Disaat yang genting itu, bapak yang menabrak segera membawa saya ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit, tidak ada tindakan lain yang dilakukan oleh dokter selain menjahit lukanya. Pengalaman pertama.

Sembilan jahitan di kaki kanan kali ini membuat cara berjalan saya lagi- lagi tidak normal. Saya benar- benar tidak bisa menginjakkan kaki kanan, akibatnya saya hanya bisa berjalan sambil ingkud-ingkudan. Meskipun demikian, saya masih harus bersyukur karena luka sobek yang saya alami tidak seberapa dibandingkan orang lain yang mengalami kecelakaan serupa, ada yang harus digips kakinya sampai harus memakai krux atau kursi roda, bahkan ada yang sampai harus meregang nyawa karena kecelakaan motor seperti yang dialami oleh salah satu artis ibu kota yang akhir- akhir ini kabar kematiannya cukup ramai diberitakan di infotainment. Alloh masih memberikan kesempatan, Alloh masih sayang… Cuma itu yang terpikir oleh diri ketika mendengar berita duka cita itu. Alhamdulillah sakieu mah tiasa keneh hirup…

Setelah jahitan luka diangkat, berjalan pun berangsur normal. Sampai saat ini, meskipun masih agak sakit, saya mencoba untuk menjejakkan kaki kanan sedikit demi sedikit. Baru sekarang saya benar- benar ingin merasakan nikmatnya cingogo dengan normal, sila dengan normal dan duduk diantara dua sujud dengan normal. Bersyukurlah yang masih bisa cingogo, sila dan duduk dengan normal…

kaki normal

Kenapa harus kaki?
Kaki lagi, kaki lagi. Bukan hanya saya yang memikirkan hal ini. Orang tua dan teman di sekitar banyak yang mengomentari peristiwa pada kaki yang saya alami. “Apa yang sakit/kena? kaki lagi? Yang mana eun?” kurang lebih begitulah komentar mereka. Sambil mencoba terus mensyukuri dan menikmati ujian (mungkin peringatan) yang Alloh berikan ini, saya mencoba menggali hikmah. Kenapa harus kaki? Itu juga yang sering terpikir di benak saya ketika melihat kuku jempol kaki kiri dan bekas jahitan bagian belakang kaki kanan. Saya rasa dua kejadian berturut- turut pada kedua kaki saya merupakan analogi yang ingin ditunjukkan Alloh.

Kaki adalah…
Dengan kaki kita bisa berjalan, dengan kaki juga kita bisa berlari. Berjalan atau berlari akan menjadi maksimal ketika kaki dapat dijejakkan dengan sempurna. Kalau tidak dijejakkan, bisa saja berjalan dan berlari tetapi ada efek samping yang ditimbulkan yaitu sakit lutut karena ia harus menahan kaki yang tak dijejakkan dengan sempurna. Pengalaman… Dengan demikian menjejakkan kaki (napak) sangatlah penting bagi yang ingin berjalan dan berlari dengan maksimal.

Bila saya coba kaitkan dengan kehidupan nyata, menjejakkan kaki atau napak merupakan analogi bagi manusia yang sadar siapa dirinya. Beda dengan yang tidak menjejakkan, kemungkinannya ada dua yaitu lupa daratan/ngapung (tidak sadar) atau memang dirinya bukan manusia. Hal yang penting untuk digali adalah kesadaran seperti apa yang harus dimiliki? Yang bagaimana sih manusia yang disebut napak teh? Menurut saya, kesadaran tentang siapa diri. Banyak orang yang tidak napak karena tidak sadar tentang dirinya. Kemampuan untuk menjawab siapa diri saya ini yang akan memberikan jawaban apakah saya napak atau masih melayang-layang (mimpi/tidak sadar) .

Kesadaran tentang siapa-diri yang selanjutnya memberikan kekuatan dan menjadi landasan untuk bisa berjalan dan berlari, tentunya dengan maksimal. Berjalan dan berlari disini pun merupakan analogi. Berjalan dengan kaki yang napak artinya menjalani hidup dengan penuh kesadaran tentang siapa diri. Sedangkan berlari sangat berkaitan erat dengan mengejar sesuatu. Mengejar pun erat kaitannya juga dengan akselerasi (percepatan). Dengan demikian, bisa dikatakan berlari dengan kaki yang napak, artinya mengejar dengan kesadaran, sadar siapa dirinya dan sadar tentang tujuannya.

Fenomena yang terjadi sekarang, banyak orang yang ‘berlari’ mengejar sesuatu tanpa disadari dengan benar apa yang ia kejar dan mengapa dia mengejar hal itu. Akibatnya setelah sesuatu itu dia dapatkan, bukannya bersyukur tetapi semakin jauh, semakin ingkar dan semakin lupa pada yang telah mengabulkan tujuannya, sebenarnya yang dia dapatkan adalah ketidakpuasan tak berujung. Semakin tidak jelas apa yang dicari, semakin lupa siapa diri. Apalagi jika tujuan tak tercapai, lelah berlari akhirnya putus asa, gantung diri…Lupa we siapa diri teh. Itulah pentingnya napak. Napak akan memperjelas apa yang kita tuju, untuk apa kita mendapatkannya dan bagaimana cara mendapatkannya. Hanya dengan napak, kita akan mendapatkan kesuksesan dengan efektif dan hasilnya pun berkah, insyaAlloh.

Kaki yang Amanah…
Kaki untuk berjalan, kaki untuk berlari…menuju satu tujuan, menggapai dengan akselerasi… Kaki yang melangkah, kaki yang berdakwah dalam tiap kesempatan. Sempurnanya bila dilengkapi dengan landasan yang benar dan dengan kesadaran, napak tea. Sambil belajar menjejakkan kaki dalam arti denotatif, belajar menyadarkan diri untuk selalu napak -selalu memegang landasan yang benar dalam menjalani kehidupan- adalah sebuah keharusan. Tanpa landasan yang benar, akan sulit berjalan apalagi berlari. Semoga bisa benar- benar menjadi kaki yang mampu berjalan bahkan mampu berlari, mampu melangkah mampu berdakwah…Kaki yang amanah :) Aamiin ya Robbal ‘alamiin.
*Ingat pepatah orang tua sirah dijieun suku, suku dijieun sirah. Bukan ‘kaki’ saja, tapi tangan juga. hehe.Semoga bisa amanah, bisa sinergis dan makin istiqomah.aamiin

btw gambar kaki itu bukan kaki saya ya :)

Categories: catatan harian, islam | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Belenggu Selimuti Hamba

Puisi ini adalah buatan salah satu mmm…temanku yang bernama Vihin Syahida… Sengaja di post disini karena kupikir syairnya baguss untuk direnungkan… isinya tentang perjuangan menempuh halangan dalam meniti CINTA yang satu, cinta dari yang Maha Memiliki Cinta,Maha Memiliki Kehidupan, Maha Memiliki Kebenaran :)
Berharap ini jadi motivasi, yaah minimal motivasi diri sendiri untuk selalu tak gentar atas segala halangan dan aral melintang yang akan dihadapkan-Nya dalam menempuh jalan ini :)

Lets check it out, bro n sist …

 

Tata surya tengah beredar
Bumi tengah berputar
Hidup kian berjalan
Aku pun bergegas mengubah pandangan
Dari kejahilan menuju kebenaran
Wahai Tuhan!
Tuntun aku kekerahmatan

Ku telusuri…
Lembah…
Lereng…
Bukit…
Puncak…
Ya! Puncak!
Puncak itu keselamatan
Puncak itu tujuan
Puncak itu keridhoan

Dalam ikhtiarku
Dalam kebulatan tekadku
Temaramlah aku, terseok bathinku
Angin itu! Kabut itu!
Menyerang, menghempas, membuyarkan pandanganku
Mereka yang tak pasti arah dan tak tentu pengakhiran
Berhasil mengkremasi semua harapan dan tujuan
Seorang hamba yang mencari kebenaran

Cahaya yang menyinari
Kian lenyap disibaknya
Jalan lurus yang kutapaki
Tak tampak, diselubunginya

Aku diam, aku tunggu
Berbisik hatiku, “Mau apa mereka?”
Ku kira, mereka kan beri petunjuk
Nyatanya, ku hanya “terbujuk”
Lantas mau kemana aku? Siapakah mereka???
Angin itu hanya berputar mengelilingiku
Kabut itu hanya mengaburkan pandangan
Setelah memecah harapan,
Lalu aku dibiarkan

Tertatih.. namun tak buatku merintih
Dikejar… namun tak buatku bergelalar
Ku kumandangkan sekuat diri
Ku hujamkan sekuat hati
Hingga langit terasa bergetar
Hingga pita suara nyaris terpendar
“Allah akan menunjukkan kebenaran dan
melenyapkan kebathilan”

Pada masanya
Angin dan kabut itu tiada
Dan jalan petunjuk itu kembali bercahaya
Akhirnya ku berhak meniti tuju ‘CINTA’

 

Categories: islam | Tinggalkan komentar

Aku menulis (lagi)…

Alhamdulillah… setelah bisa ‘meloloskan diri’ dari jadwal yang superhectic itu akhirnya saya bisa menggoyang jari di atas keyboard komputer. Sudah lama rasanya ingin mengupdate blog tapi baru sekarang ini bisa terealisasi…Walau bagaimana pun…alhamdulillah…mudah-mudahan bisa menuangkan lagi ide- ide (kreatif ^-^,amin) disini.

Mengingat kemampuan manusia dalam mengingat yang sangat terbatas, rasanya tidak salah bila menulis menjadi salah satu upaya untuk ‘mengawetkan’ pemikiran dan ide yang ada, syukur alhamdulillah jika tulisan yang ada bisa memberi pencerahan, menjadi inspirasi bagi orang lain. Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang dilakukan, rasanya semakin terbatas memori otak ini untuk merekam kejadian atau merekam ilmu dan pengetahuan yang dimiliki secara utuh.Terkadang realitas yang bisa menjadi pelajaran berharga pun secara tak sadar berlalu. Padahal bukankah pelajaran di masa lalu bisa menjadi pengalaman dan dimanfaatkan di masa yang akan datang.Selain itu, seringkali ilmu dan pengetahuan yang sempat ‘mampir’ di otak hilang begitu saja akibat tertutup oleh hal yang  lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa manusia (kita,red) adalah makhluk yang terbatas. Bukan begitu, kawan?

Atas pertimbangan inilah, ke depannya insya 4w1 saya ingin membuat tulisan- tulisan mengenai buku yang pernah saya baca. Mudah-mudahan bisa menambah ilmu dan pengetahuan teman-teman. Wish you enjoy dan jangan lupa commentnya ya! ^.^

Categories: catatan harian | Tags: | Tinggalkan komentar

6 Think Hats

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang menarik dan saya rasa cukup berharga. Pada suatu mata kuliah, dosen saya menjelaskan  tentang cara berpikir.

Berpikir adalah proses yang rumit, namun sangat penting bagi kehidupan. Berpikir dapat merugikan, dapat pula menguntungkan kita. Adalah suatu keberuntungan bila kita dapat menggunakan kemampuan berpikir kita untuk menyelesaikan permasalahan hidup.

Yang menjadi pertanyaan adalah cara berpikir seperti apa yang dapat menjadi jalan problem solving? Tentunya bukan cara berpikir  yang serabutan yang dapat menyelesaikan masalah, tapi cara berpikir sistematis…

Edward de Bone, adalah salah seorang yang mencetuskan cara atau metodologi berpikir. Mungkin metode ini cukup dikenal di masyarakat akademisi. Metode itu dikenal dengan nama Six Thinking Hats.

Read more »

Categories: Kampus | Tags: | 3 Komentar

Antara Jasmaniyah dan Ruhiyah

Seorang muslim tak akan pernah lepas dari ujian. Itulah yang difirmankan Allah dalam al quran bahwa Dia akan menguji keimanan seseorang. Ujian yang datang bisa hadir dalam berbagai bentuk, bisa berupa ujian dalam keluarga, ujian dalam keuangan, ujian hati, ataupun ujian fisik maksudnya sehat atau sakit.

Nah, untuk ujian yang terakhir ini, seringkali kita tidak sadar dan tidak sabar menghadapinya. Wujud tidak sadar, tidak sabar, atau tidak menerima biasanya hadir dalam ungkapan. Ya, keluhan….

Jadi teringat sebuah slogan, mensana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Memang benar, andaikan kita sehat maka kita bisa melaksanakan segenap aktifitas dengan pikiran jernih dan apabila kita memaknai aktifitas itu, maka bisa jadi lahirlah kekuatan ruh. Tergantung aktifitas dan niatnya juga sih…

Tapi bagaimana dengan jiwa yang sehat? Mampukah ia melahirkan kekuatan jasad??

Jawabannya YA,tentu saja. Apabila  jiwa kita sehat, dalam artian RUH kita sehat, maka akan timbul suatu keyakinan dalam diri akan pertolongan Allah. Hal Inilah yang akan menyebabkan timbulnya suatu energi dalam diri untuk melakukan sesuatu meskipun dalam keadaan jasad yang tidak dianggap memungkinkan sekalipun.

Pernah ada suatu cerita, seorang ibu mengidap suatu penyakit dan divonis bahwa penyakitnya sudah mencapai taraf PARAH, tak bisa lagi disembuhkan. Namun dengan kesabaran serta keyakinan yang ia punya, ia tetap menjalani aktifitasnya seperti sebelum ia sakit.Penyakit yang terus menggerogotinya tak serta merta membuatnya lemah menghadapi hidup dan segala permasalahnnya. Orang di sekelilingnya pun terheran- heran dengan apa yang dilakukan ibu tersebut.

Allahushomad…

Mungkin sering kita melafalkannya dalam shalat. Tapi mampukah jasad yang sakit ini menjadikannya sebagai keyakinan, keyakinan bahwa Allah satu- satunya tempat MEMINTA. Meminta pertolongannya dalam  menghadapi segala ujian hidup???

“Jika jiwa ini lemah maka raga/ jasad ini pun ikut lemah. Namun, jika jiwa ini lapang maka raga akan sanggup untuk mengikutinya.”(Bukan Hadist)

CCMIF. Wallahu ‘alam bishshawab

Categories: islam | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Mengenal Dakwah

gallery-msg-118104909056

Waktu tak terasa terus berlalu, meninggalkan jejak-jejak perjuangan indah Rosulullah bersama para sahabat dalam menyeru manusia menuju jalan Allah, dalam menolong agama Allah.

Zaman pun semakin berkembang menampakkan berbagai jenis hiburan yang tak jarang melenakan. Hal ini seolah membuyarkan kebanyakan orang dalam mengingat dan melihat betapa dakwah Rosulullah itu adalah sesuatu yang mulia yang membutuhkan kegigihan serta kesabaran ekstra dalam memperjalankannya. Namun, tak sedikit pula orang-orang yang menyadari akan kewajibannya dalam menjalankan sunnah Rosul yang satu ini tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Read more »

Categories: islam | Tags: , , | 1 Komentar

Dimana kan Kucari Ganti

by Hijjaz, Raihan, SaffOne,Saujana

muhammad

Hendak kunangis tiada berair mata
Hendak kusenyum tiada siapa nak teman
Kalau dah nasib sudah tersurat
Begini hebat apa nak buat

Di mana kan kucari ganti
Serupa dengan mu
Tak sanggup ku berpisah
Dan perhati patah, hidup gelisah

Alangkah pedih rasa hati
Selama kau pergi
Tinggal kami sendiri
Tiada berteman di dalam sepi

Dunia terang menjadi gelita
Cahaya indah mengundang gerhana
Keluhan hatiku menambah derita
Rindukan dikau jauh dimata

Di mana kan ku cari ganti
Mungkinkah di syurga
Untuk kita berjumpa
Disaat gembira, selama-lamanya

Categories: Nasheed | Tags: , | 1 Komentar

Kumerayu by AlarmMe

renungan

Dalam sayu ini
Ku masih merayu
Kiranya Kau hulur sisa simpati
Untuk hatiku yang masih mengharap
Tuhan ku pinta segala terlerai

Walaupun aku tidak pasti
Apakah masih membara dosaku
Di lautan derhaka ku terus berombak
Menghempas taubatku yang kian retak
Oh Tuhan ampunilah daku
Sudi kiranya kau hujani kembali
Jiwaku yang masih kelayuan ini

Tuhan sambunglah cintaku yang terputus
Dengan cinta-Mu Yang Maha Kudus
Dalam sayu ku masih merayu
Agar kasih-Mu hadir di hatiku
Dalam pilu ku masih merayu
Biarlah dosa-dosa nan lalu
Terkubur di lipatan kenangan

Ku merayu hanya pada-Mu
Ku merayu dan terus merayu

Ku memohon petunjuk dari-Mu
Buatku menuju jalan-Mu yang satu
Hidup matiku hanya untuk-Mu

Categories: Nasheed | Tags: , | Tinggalkan komentar

Bulan Agustus = Bulan Kaderisasi

Jas almamater dimana-mana, baju olahraga TPB dimana-mana, jaket himpunan dimana-mana….

Sebetulnya bukan pakaiannya yang ada dimana-mana, tapi orang yang memakainya itu bisa dijumpai di tiap sudut di Institut Teknologi Bandung. Fenomena ini menjadi wajar karena saat ini sedang berlangsung agenda kaderisasi, sasaran utama kaderisasi ini adalah angkatan 2007 sampai 2009.

Angkatan 2007 mengalami kaderisasi secara tidak langsung. Banyak dari mereka yang justru terkader karena menjadi bagian dari panitia acara kaderisasi tersebut. Well, kita belum mendefinisikan kaderisasi di awal topic. Kita sama-sama sepakati saja bahwa kaderisasi adalah suatu proses pembentukan seorang kader. Kader apa? Ya tergantung, jika kaderisasi dilakukan di himpunan, maka output yang diharapkan adalah seorang kader himpunan.  Dengan menjadi panitia dari acara kaderisasi justru disinilah terdapat banyak pembinaan yang didapatkan, utamanya pembinaan secara mental dan emosional.

Untuk angkatan 2008, disini mereka banyak mengalami porsi kaderisasi yang cukup banyak. Selain mendapatkan kaderisasi di himpunan, mereka pun mengalami kaderisasi di kegiatan penerimaan mahasiswa baru 2009 yang dinamakan PROKM. Sebetulnya di kegiatan PROKM ini mereka terkader secara tidak langsung,karena disini mereka menjadi pengkader yang terkader.

Sedangkan untuk angkatan 2009, mereka mendapati kaderisasi di kegiatan PROKM. Mereka dikader untuk menjadi mahasiswa, diberikan banyak binaan sehingga mereka lebih memahami dunia kampus dan dunia kemahasiswaan.

Itulah sekelumit dunia kaderisasi di kampus Institut Teknologi Bandung. Tidak cukup detail namun semoga cukup memberikan gambaran tentang dunia kaderisasi kampus.

Sebenarnya kaderisasi tersebut tidak dirasakan semua orang dalam tiap angkatannya. Hidup adalah pilihan, begitu bukan? Ada yang memilih dan membiarkan dirinya terkader, ada juga yang memilih dan membiarkan dirinya tidak terkader (contoh kalimat tidak efektif,:D).

Bila kita mencoba melihat lebih jauh, ternyata Bulan Agustus 2009 ini bukan hanya milik kaderisasi dunia kampus. Di bulan ini pun akan dimulai proses pengkaderan yang lainnya. Mungkin sebagian dari kita pun tengah mempersiapkan diri menghadapi proses pengkaderan ini.

Read more »

Categories: Kampus | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Libur Panjang

wah…kuliah semester ini sudah berakhir.mudah2n semester depan bisa lebih baik….amin

Categories: Uncategorized | 7 Komentar

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.